Senin, 20 Maret 2017

KOKOH dan INDAH dengan “lima syarat”

Dapat ilmu dari salah seorang pakar manajemen pendidikan, bahwa :
Pengelolaan sebuah lembaga atau organisasi bisa diibaratkan dengan sebuah bangunan yang KOKOH dan INDAH dengan “lima syarat” yaitu :
1.   Fondasi yang kuat yakni nilai-nilai Agamis,
2.   Pilar penyangga berupa pelaksanaan Visi-Misi serta tujuan yang Konsisten,
3.   Dinding yang kuat ditandai dengan sarpras dan infrastruktur yang representatif, Ventilasi yang baik dengan tersedianya SDM yang memenuhi kualifikasi, dan

4.   Atap tata kelola yang profesional. 

ANAK SEKOLAH TERTIDUR DI TROTOAR SELEPAS JUALAN “ABIL ALIFUDIN”


Seorang bocah kecil tertidur di depan sebuah trotoar di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Posisinya tidak terlentang, melainkan bersandar pada sebuah dinding pagar. Sang bocah tampak masih mengenakan seragam sekolah lengkap: pakaian pramuka, sepatu, dan setangan leher alias kacu merah-putih.

Di depan sang bocah tampak sebuah kardus kecil berisi tisu dan aneka jajanan. Rupanya bocah yang diketahui bernama Abil Alifudin itu tengah berjualan. Selepas sekolah, dia mencari rezeki dengan berjualan tisu dan aneka jajanan anak-anak.



 
Foto Abil, begitu sang bocah biasa dipanggil, tersebar di media sosial pada akhir pekan kemarin. Bagaimana cerita tentang Abil, yang berjualan selepas sekolah?

"Awalnya sudah setahunan saya jualan," kata Abil saat ditemui di kontrakannya, Gang H. Toncit, Jagakarsa, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Minggu (19/3/2017).

Anak kelahiran 18 Januari 2004 ini mengaku berjualan setiap hari setelah pulang sekolah, pada pukul 14.00-22.00 WIB. Hasil dari berjualan sebagian dia gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah dan membantu ibu. Jika ada sisa, Abil menggunakannya untuk sekadar bermain ke warnet (warung internet).

"Uangnya buat beli tas, sepatu, kasih ke ibu, sama main warnet (warung internet)," kata Abil.

"Pulang jualan sampai rumah jam 22.00 WIB, sudah malam, tapi saya dari warnet belajar dulu di rumah teman buat ngerjain tugas juga," tambah Abil. Kali ini dia sambil menahan tangis.

Dia sering mengambil barang jualan, seperti tisu, kepada Irma atau yang sering disapa Umi oleh Abil. Setiap hari ia diberi 10-20 tisu per hari untuk dijual.

"Jualan tisu atau kue kering, juga keripik. Kalau tisu biasanya ambil ke Umi (Irma). Sehari bisa habis 10-20 tisu, itu sekitar 25 ribu rupiah, tapi kadang ada yang ngasih jadi bisa 50 ribu sehari," imbuhnya.

Akibat sering berjualan hingga malam, tak jarang Abil ketiduran di ruang kelas saat jam pelajaran sekolah. Teman-teman di kelas pun pernah meledeknya.

Namun, bagi Abil, selama yang dia lakukan benar dan halal, itu tak jadi soal. "Saya sempat diledekin kayak, 'Dih Abil jualan, malu-maluin'. Kayak gitu, tetapi ya sudah nggak apa-apa, yang penting halal. Pernah ketiduran juga di kelas, terus dibangunin guru," kata Abil sambil terisak.

Bukan hanya teman, guru dan orang tua juga tahu Abil sering berjualan sepulang dari sekolah. Kini Abil duduk di bangku kelas IV SD. Dia bersekolah di SDN 09 Tanjung Barat. Ketika ditanya apakah sang guru tahu bahwa dia berjualan, Abil cerita bahwa gurunya tahu.

"Guru kelas tahu, tapi dia cuma bilang nggak apa-apa yang penting halal. Saya juga tetap belajar kalau habis main warnet," kata anak keempat dari lima bersaudara ini.

Abil merasa, untuk memenuhi kebutuhannya, ia harus berjualan. Meski sempat dilarang oleh orang tua dan kakaknya, hal itu tidak membuat dia berhenti berjualan.

"Ia sempet dilarang sama orang tua, tapi saya emang mau jualan biar bisa nambah penghasilan," imbunya.
 


==============


"Dek, waktu aku seumur kamu kalau sepulang sekolah itu langsung istirahat dan tidur siang lho. Padahal sekolah aku waktu itu deket banget dari rumah, dan rasanya pengen buru-buru pulang ke rumah,apalagi kalau cuaca lagi terik. Dek, waktu aku seusia kamu, aku cuma tau jajan-sekolah-main. Dek, waktu aku seusia kamu alhamdulillah nasib aku lebih baik dari kamu. Kasian kamu dek, seharusnya seusia kamu sepulang sekolah itu makan,istirahat dan ngerjain PR.
Tapi kenyataan kamu berlawanan dari apa yang semestinya. 7 dari 10 anak seusia kamu justru ada yang menyia-nyiakan nasib baik mereka, sedangkan kamu....di tiap harinya kamu jalan, jongkok, lari ke sana kemari memutari wilayah kampus dengan dagangan kamu yang seadanya karena tuntutan hidup. Dari jual tisu, jual makanan kering sampai ngojek payungpun kamu lakoni. Semoga kelak kamu jadi anak mandiri, kuat dan membanggakan orang tua yah dek"

Jumat, 17 Februari 2017

Hatim al-Asham, selama 30 tahun berguru kepada Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim al-Balkhi “hanya belajar 6 hal”

Salah satu tokoh sufi terkemuka asal Khurasan pada abad ke-8 M adalah Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim al-Balkhi. Sejak muda, tokoh yang wafat pada 149 H/ 810 M ini, terkenal dengan sikap zuhud, wara', dan ketakwaannya. Keputusannya untuk meninggalkan gemerlap dunia berawal dari kisah sederhana. 

Terlahir dari keluarga saudagar yang berlimpahan harta, ia pun dipercaya menjalankan bisnis orang tuanya. Saat melancong ke Turki, ia bertemu dengan seorang penyembah berhala yang tengah asyik menghambakan diri di hadapan benda-benda tak bernyawa itu. Mereka berpenampilan botak dan tanpa memelihara jenggot dengan busana serbahijau.


Merasa risih akhirnya ia menegur para penyembah berhala itu. “Wahai pelayan, sesungguhnya kami memiliki Tuhan yang mahahidup, mahatahu, mahakuasa, sembahlah Dia dan jangan ikuti berhala-berhala yang tak bermanfaat itu.” 
Pernyataan itu membuat kaget mereka yang mendengarnya. Tak terima dengan ungkapan tersebut, mereka menjawab: “Jika memang apa yang kamu ucapkan itu benar bahwa Tuhanmu Mahakuasa untuk memberikan rezeki kamu di negerimu, mengapa kamu bersusah-susah datang kemari untuk berdagang?”


Detik itu juga, hatinya teriris, kata demi kata itu mampu menancap kuat di hatinya. Ia sadar, dunia telah melalaikannya selama ini. Sejak kejadian itulah, al-Balkhi membuat keputusan besar untuk menjauh dari gemerlap dunia hingga ia menekuni tasawuf dan pakar di bidangnya. Tak sedikit murid yang berguru kepadanya, termasuk Hatim al-Asham.

Hatim al-Asham dan para muridnya kerap menemani sang guru dalam berbagai kesempatan. Tidak terkecuali pada masa perang. Meski terkenal sebagai pakar sufi, al-Balkhi sering terlibat jihad. Pernah suatu ketika, seperti dinukilkan oleh Hatim, peperangan terjadi untuk menyerbu Turki. Tumpukan mayat, tombak, dan pedang yang patah tak membuat nyalinya ciut. “Demi Allah, hari ini saya merasa tenteram seperti malam itu,” kata Hatim menirukan perkataan sang guru.  


Hatim menemani al-Balkhi selama hampir 30 tahun. Kurun waktu yang lama itu, memberikan kedekatan antarkeduanya. Hubungan antara seorang murid dan guru tak lagi ada sekat. Keduanya bahkan saling belajar. 


Mengutip Hiburan Orang-Orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata, dan Penuh Hikmah terbitan Pustaka Arafah, suatu hari al-Balkhi berkata kepada muridnya, Hatim al-Asham, “Apa yang telah engkau pelajari dariku sejak menyertaiku (selama 30 tahun)?”

Hatim al-Asham menjawab, “Ada enam hal”. 


Pertama, saya melihat orang-orang masih ragu mengenai rezeki. Tidak ada di antara mereka melainkan kikir terhadap harta yang ada di sisinya dan tamak terhadap hartanya. Lantas saya bertawakal kepada Allah SWT berdasarkan firman-Nya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS Hud [11]: 6).


Karena saya termasuk makhluk bergerak, maka saya tidak perlu menyibukkan hatiku dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Zat yang Mahakuat dan Mahakokoh.”
Beliau berkata, “Engkau benar.”


Kedua, saya memandang bahwa setiap orang mempunyai teman yang menjadi tempat baginya untuk membuka rahasia dan mencurahkan isi hatinya. Akan tetapi, mereka tidak akan menyembunyikan rahasia dan tidak mampu melawan takdir. 


Ilustrasi ilmuwan Muslim saat mengembangkan sains dan
teknologi pada era Dinasti Abbasiyah di Baghdad.
Oleh karena itu, yang saya jadikan sebagai teman ialah amal saleh agar dapat menjadi pertolongan bagiku pada saat dihisab, mengokohkanku di hadapan Allah, serta menemaniku melewati jembatan (shirath).
Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”


Ketiga, saya memandang bahwa setiap orang mempunyai musuh. Lalu saya merenung. Ternyata orang yang menggunjingku bukanlah musuhku, bukan pula orang yang berbuat zalim kepadaku, dan bukan pula orang yang berbuat buruk kepadaku.


Sebab, dia justru memberi hadiah kepadaku dengan amal-amal kebaikannya dan memikul perbuatan-perbuatan burukku. Akan tetapi, musuhku ialah sesuatu yang pada saat saya melakukan ketaatan kepada Allah, dia membujukku berbuat maksiat kepada-Nya. Hal tersebut adalah iblis, nafsu, dunia, dan keinginan. 


Oleh karena itu, saya menjadikan hal tersebut sebagai musuh, saya menjaga dirinya, dan saya mempersiapkan diri untuk memeranginya. Maka, saya tidak akan membiarkan salah satu dari semua itu mendekati saya.
Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”


Keempat, saya memandang bahwa setiap orang hidup adalah orang yang dicari sedangkan malaikat maut adalah pihak yang mencari. Oleh karena itu, saya mencurahkan diri saya untuk bertemu dengannya. Sehingga, ketika dia telah datang, saya dapat bersegera berangkat dengannya tanpa rintangan.”Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

Kelima, saya melihat orang-orang saling mencintai dan saling membenci. Saya melihat orang yang mencintai tidak memiliki sedikit pun terhadap orang yang dicintainya, lalu saya merenungkan sebab cinta dan benci. Saya tahu bahwa sebabnya ialah keinginan dan dengki. 


Saya menyingkirkannya dari diri saya dengan menyingkirkan hal-hal yang menghubungkan antara diri saya dengannya, yaitu syahwat. Oleh karena itu, saya mencintai seluruh kaum Muslimin. Saya hanya ridha kepada mereka sebagaimana saya ridha terhadap diri sendiri.
Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”


Keenam, saya memandang bahwa setiap orang yang bertempat tinggal pasti meninggalkan tempat tinggalnya dan sesunguhnya tempat kembali setiap orang yang bertempat tinggal ialah alam kubur. Oleh karena itu, saya mempersiapkan semua amal perbuatan yang mampu saya lakukan yang dapat membuatku gembira di tempat tinggal yang baru yang di belakangnya tidak lain adalah surga atau neraka.


Kemudian, pada pengujung jawabanku tersebut, Syaqiq al-Balkhi menimpali, “Itu sudah cukup. Lakukanlah semua itu sampai mati.”




Kitab Alfiyyah Bab Idhafah dan “Filosofi Pernikahan”

Dalam Alfiyyah-nya, Ibnu Malik berkata:
نُونَاً تَلِي الإِعْرَابَ أَوْ تَنْوِينَا * مِمَّا تُضِيْفُ احْذِف كَطُوْرِ سِيْنَا
وَالْثَّانِيَ اجْرُرْ وَانْو مِنْ أَوْ فِي إِذَا * لَمْ يَصْلُحِ إلاَّ ذَاكَ والْلاَّمَ خُذَا
لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ وَاخْصُصْ أَوَّ لاَ * أَوْ أَعْطِهِ الْتَّعْرِيْفَ بِالَّذِي تَلاَ
Berikut rincian makna dari bait tersebut:

1. Untuk Suami, Singkirkan Ego Diri
Dalam bait pertama dikatakan:
نُونَاً تَلِي الإِعْرَابَ أَوْ تَنْوِينَا  * مِمَّا تُضِيْفُ احْذِف كَطُوْرِ سِيْنَا
“Buanglah nun yang mengiringi tanda i’rab (tasniyah dan jamak) ataupun tanwin (dalam isim mufrad) dari suatu isim yang akan Anda idhafahkan, seperti kata Thuuri Siina.”
Isim mufrad (tunggal) dalam tanda i’rabnya memang selalu disertai tanwin ketika tak bersama huruf alif lam. Lalu isim tasniyah (menunjukkan makna ganda) dan jamak mudzakar salim (bentuk plural untuk kata yang tergolong mudzakar) biasa memuat huruf nun. Contoh kata مسلم (muslimun), مسلمان  (muslimani), dan مسلمون  (muslimuna) ketika akan diidhafahkan maka tanwin dan nunnya harus dihilangkan.
Pernikahan merupakan penyatuan dua manusia lain jenis yang menuntut kesetiaan, tanggung jawab, pengertian, cinta dan kasih sayang. Bagi seorang lelaki, yang menjadi menjadi pemimpin rumah tanggah, ibarat sebuah mudhaf dalam nahwu, ia harus menanggalkan ego dan sifat kurang baiknya saat belum menikah.
Simbol-simbol masa lajang seperti gampang cari perhatian terhadap lawan jenis, tebar pesona, suka keluyuran, adalah contoh gampang “tanwin” yang harus digugurkan begitu menikah.

 

2. Istri, Rendahkanlah Dirimu

Mudhaf ilaih, atau kata kedua dalam susunan idhafah harus selalu ber-i’rab jar. Seperti kata penggalan bait kedua:
وَالْثَّانِيَ اجْرُرْ وَانْو مِنْ أَوْ فِي إِذَا *  لَمْ يَصْلُحِ إلاَّ ذَاكَ
“Kata yang kedua jarkanlah, dan kira-kirakan maknanya fi atau min bila memang harus menggunakan makna itu.”
Kata kedua yang berposisi menjadi mudhaf ilaihi harus beri’rab jar. Istilah lain dari jar adalah khafadh yang juga berarti rendah atau bawah. I’rab jar biasa ditandai dengan adanya tanda baca bawah atau kasrah.
Begitu pula adanya seorang yang berperan menjad istri. Rendahkan diri kepada suami. Menjadi makmum yang baik. Allah berfirman:
“… Maka wanita-wanita saleh ialah yang taat kepada Allah, memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka)…,” (Qs. an-Nisa`[4]:34).
Pada poin ini, hanya soal i’rab jar atau khafdh bagi mudhaf ilaih saja yang diambil.

 

3. Suami, Berilah Nafkah!

والْلاَّمَ خُذَا … *
* … لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ
“Ambillah makna lam untuk selain keadaan yang mengharuskan makna min atau fi.”
Makna paling umum dari idhafah adalah arti kepemilikan yang diberikan oleh lam. Kata مال زيد (Malu zaidin), berarti harta milik Zaid.
Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga. Seorang lelaki yang berperan ibarat mudhaf yang menjadi sandaran bagi istri, si mudhaf ilaih.
Suami bekerja mencari rezeki dan pada akhirnya diberikan kepada istri. Bahkan ada plesetan yang mengatakan bahwa SUAMI adalah singkatan dari Semua Uang Milik Istri.
Dari memberikan nafkah harta inilah, seorang lelaki layak menyandang predikat sebagai pemimpin rumah tangga. Al-Qawwam. Firman Allah di bagian awal ayat diatas menyebutkan:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka ….”

 

4. Pilih yang Memberi Makna Takhsish ataukah Ta’rif?

وَاخْصُصْ أَوَّ لاَ *  أَوْ أَعْطِهِ الْتَّعْرِيْفَ بِالَّذِي تَلاَ
“… khususkanlah kata pertama (mudhaf) atau berilah kemakrifatan dengan kata yang kedua (mudhaf Ilaih).”
Kata yang diidhafahkan, apabila muhdaf ilaihnya tergolong kata nakirah (umum) maka idhafahnya berfaidah takhsis (untuk mengkhususkan) saja. Sedangkan bila yang menjadi mudhaf ilaihnya adalah makrifat, maka idhafahnya berfaidah ta’rif (memperjelas, memakrifatkan).
Kata كتاب رجل (kitabu rajulin) hanya bermakna buku milik seorang lelaki. Tak jelas siapa dan lelaki yang mana. Karena rajul merupakan kata nakirah.
Jadi, kata kitab tidak mendapatkan kejelasan siapa pemiliknya, namun hanya mempunyai status milik seseorang. Sedangkan كتاب زيد (kitabu zaidin) maknanya adalah buku milik Zaid.
Kata Zaid sebagai nama orang tergolong isim makrifat, sehingga kata kitab yang semula belum jelas statusnya menjadi diketahui bahwa kitab (buku) tersebut adalah milik si Zaid.
Dalam membina rumah tangga, para lelaki meski sebagai pemimpin, pada akhirnya juga para wanita/istri mempunyai pengaruh besar dalam kesuksesan dan arah hidup seorang lelaki. Sehingga memilih seorang istri haruslah berdasarkan keunggulan agamisnya. Sebagaimana sabda Rasulullah:
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka raihlah keberuntungan dengan wanita yang taat beragama. Melaratlah engkau jika tidak melakukan itu,” (HR. Bukhari Muslim).
Catatan, pemaknaan taribat yadak dalam teks Arab hadis tersebut dengan “melaratlah engkau jika tidak melakukan itu”, adalah sesuai dengan penjelasan Badrudin al-Aini dalam Umdah al-Qari Syarah Shahih al-Bukhari.
Para bujangan, jomblowan maupun jombloanita ibarat isim nakirah yang belum jelas hendak saling sandar dengan siapa dalam mengarungi dunia.
Carilah sandaran (mudhaf) yang tergolong isim makrifat seperti petunjuk Rasulullah jika status pernikahan ingin jelas menuju peningkatan ibadah dan meraih kebahagiaan dalam naungan ridha-Nya.
Namun jika yang dipilih adalah golongan nakirah yang tak jelas kualitasnya, kalau diri tak mampu memposisikan sebagai yang memperjelas alias memakrifatkan, maka pernikahan akan jauh dari kebahagiaan.
Memilih pendamping hanya murni berdasar kekayaan, keturunan, maupun ketampanan/kecantikan semata adalah ibarat idhafah kepada isim nakirah.
Itulah setetes pesan moral pernikahan yang terbetik saat mempelajari bab idhafah.